SERINGKALI kita dengar ahli ekonomi, analis pasar finansial mengatakan, pelaku pasar menginginkan stabilitas. Adakah stabilitas di pasar keuangan?
Stabilitas yang diharapkan itu tentu berupa situasi dan kondisi pasar yang tidak gonjang-ganjing, tidak berfluktuasi liar. Memang tidak ada pasar yang “adem-ayem” setiap hari. Tanpa pergerakan harga, tentu pasar tidak menarik bagi pencari keuntungan. Karena itu, jantung investor bisa berdegup menyaksikan harga saham naik turun, juga soal kurs mata uang.
Teorinya, pergerakan harga di pasar ditentukan penawaran dan permintaan. Namun kadangkala permintaan dan penawaran di pasar bukan ditentukan kebutuhan riil, tetapi lebih karena tindakan spekulasi menggerakkan harga. Di pasar mana pun hal itu bisa terjadi. Di pasar tradisional, tempat pertemuan penawaran dan permintaan cabai misalnya, sampai pasar finansial dan derivasinya yang kian canggih dan rumit.
Oleh karena itu, harga yang terbentuk sering pula bukan harga riil, alias semu. Di pasar modal, bursa efek, tindakan semacam itu disebut manipulasi pasar (market manipulation). Itu tindakan “haram”. Pelakunya diancam pidana. Akan tetapi, walaupun aktivitas pelaku pasar macam itu terlarang, banyak juga terjadi. Seketat-ketatnya mandor mengawasi aktivitas di pasar yang menjadi otoritasnya, tetap saja ada pelaku nakal.
Jadi, stabilitas pasar yang didambakan, mungkin tinggal mitos. Teori dan dunia nyata sudah jauh bertolak belakang. Dahulu, uang hanyalah alat bayar untuk perdagangan komoditas. Sejak uang tidak lagi berfungsi sebagai alat bayar semata, semenjak uang juga telah diperdagangkan sebagai komoditas, karena uang juga sudah berubah fungsi menjadi komoditas yang ditransaksikan, pada era inilah stabilitas pasar finansial tidak akan dijumpai.
Pasar keuangan saat ini sudah berlangsung duapuluh empat jam sehari tanpa henti. Sebelum pasar tutup di suatu wilayah, karena perbedaan waktu, pasar di wilayah lain mulai berdenyut. Begitu seterusnya. Apalagi pelaku pasar tidak harus hadir secara fisik di suatu pasar, seperti halnya di pasar tradisional.
Melalui jaringan intenet dari Hongkong, orang bisa berdagang uang di pasar Jakarta. Saat banyak orang tidur di Jakarta, pedagang valuta justru harus melek mengikuti pasar di belahan benua Amerika misalnya. Ketika pasar valuta di Jakarta ditutup dengan tenang, dan pedagang tidur dengan nyenyak, bisa saja esok hari mereka sudah menemukan nilai valutanya sudah merosot karena valuta yang ada dalam “kantongnya” sudah melorot harganya di pasar Amerika.
Tahukan Anda, perdagangan uang di pasar valuta di atas bumi ini, pada tahun 2010, rata-rata mencapai US$ 4 triliun per hari. Itulah jumlah uang yang berputar mencari keuntungan dari selisih kurs, dari suatu pasar ke pasar lain. Jumlah tersebut sangat besar, jauh lebih banyak, ketimbang nilai perdagangan harian komoditas produk barang. Itu baru nilai transaksi valas dengan aneka macam derivasinya, sesuai survei tiga tahunan Bank for International Settlements (BIS) alias bank sentralnya bank-bank sentral sedunia. Survei tiga tahun sebelumnya, rata-rata harian transaksi valuta baru US$ 3,7 triliun. Itu berarti hanya dalam waktu tiga tahun, volume transaksi valuta asing meningkat US$ 300 miliar.
Belum lagi komoditas yang diderivasi menjadi produk finansial. Misalnya, kontrak berjangka aset sekuritisasi kakao atau minyak, dan sebagainya. Jadi, sebelum fisik barang sampai ke tujuan ekspor semula, harga sudah berubah berkali-kali akibat perdagangan surat-surat kontrak tersebut.
Dengan jumlah uang berputar dan diputar sedemikian besar itu, plus beragam perilaku dan kepentingan pelaku pasar, jelas stabilitas pasar finansial kian menjauh. Stabilitas tinggal mitos.
Kondisi itu tentu memaksa bank sentral sebagai penjaga stabilitas nilai tukar mata uang suatu negara, harus bekerja lebih keras untuk mengamankan mata uangnya dari serbuan spekulan. Bank sentral mesti memiliki analisis akurat dan intelijen pasar nan cermat dan cerdas. Stabilitas berarti tidak bergerak liarnya kurs, terkendalinya inflasi, terpenuhinyalikuiditas perekonomian, terjaganya daya beli masyarakat, daya saing ekspor kuat, dan lainnya.
Bagi masyarakat awam, diperlukan pula cara cerdas untuk mengamankan investasinya dalam situasi pasar yang setiap saat bisa bergejolak. Taatilah nasihat investasi yang menganjurkan agar tidak pernah menaruh seluruh telur ke dalam satu keranjang, supaya kalau keranjangngnya “jatuh” tidak semua telur kita pecah karena sebagian diamankan di keranjang lain.
Andi Suruji, CEO & Editor-in-Chief Inilah Group. Artikel ini juga diterbitkan di majalah Inilah REVIEW edisi ke-23 yang terbit Senin, 6 Februari 2012.