INILAH.COM, Henan - Sungguh lunglai tak berdaya sang ‘Biksu CEO’ Shi Yongxin. Kuil Shaolin turun peringkat karena manajemen amburadul, fasilitas umum yang jorok dan anjloknya jumlah pengunjung selama imlek.
Pengunjung mulai enggan masuk Kuil Shaolin di provoinsi Henan karena bau tak sedap dalam pengelolaan manajemen dan keuangan para biksu yang dianggap sakral dan taat menjalankan falsafah Buddha Chan atau Buddha Zen itu.
Tentu Shi Yongxin jadi sorotan media China. Pengunjung Shaolin Temple selama liburan Imlek sepekan kemarin menukik hingga 41,8% dibanding tahun lalu. Suratkabar lokal Dahe melaporkan rusaknya citra Shaolin Temple itu, Senin (6/2).
Penurunan pengunjung obyek wisata paling diminati turis domestik maupun asing ini merupakan buntut peringatan otoritas pariwisata China yang menyatakan Shaolin berpotensi keluar dari jajaran elit obyek wisata karena salah urus dan pelayanannya yang memburuk.
Komisi Pemeringkat Kualitas Obyek Wisata Nasional meminta Kuil Shaolin memperbaiki manajemen dan fasilitas wisata hingga beres akhir Maret mendatang. Kuil Shaolin bakal terdepak dari jajaran peringkat top jika tak mampu memenuhi kreteria pada tanggal yang dimaksud.
Sudah pengunjungnya susut banyak, penjualan karcis masuk pasti menurun. Jumlah pengunjung hanya 61 ribu orang. Untuk ukuran obyek wisata China, jumlah ini termasuk sangat kecil. Omset tiket masuk menurun 13,7% dibanding penjualan 2010.
Investasi raksasa Kuil Shaolin adalah pertunjukan kung fu keliling ke seluruh dunia, menyewakan nama Shaolin untuk pembuatan film action, film kartun dan produksi panggung untuk shooting film, serta investasi awal untuk obat-obatan China.
Kuil Shaolin membuka 40 perguruan kung fu di Amerika Serikat, Eropa dan tempat-tempat lain. Kuil Shaolin sendiri setiap tahun dikunjungi oleh tidak kurang dua juta wisatawan.