Rabu, 16 Mei 2012 | 22:14 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Ganjar Pranowo
Headline
Karim Raslan - inilah.com
Oleh: Karim Raslan
web - Senin, 6 Februari 2012 | 00:09 WIB

Setiap kali Ganjar Pranowo S.H. pulang ke Purworejo di Jawa Tengah, ibunya yang seorang guru mencubit pipinya dan mengingatkan dengan galak: “Jangan seperti Nazaruddin.” Ini menjadi peringatan yang sangat dipegang oleh anggota DPR asal PDI-P berusia 43 tahun.

Seperti yang dia katakan kepada saya baru-baru ini, “Hanya ada dua hal yang saya takuti dalam hidup ini. Yang pertama Tuhan, dan yang kedua adalah orangtua saya.”

Setelah beberapa kasus korupsi yang mendapat perhatian publik di Indonesia, bertemu Ganjar seperti sebuah angin segar.

Dia mengingatkan saya akan masa saat menjadi seorang politikus itu berarti harus memiliki integritas. Bukannya ketidakjujuran yang mengotori tangan, seperti yang terlihat akhir-akhir ini.

Saya memang sudah sering mempunyai pandangan kritis tentang DPR, tapi orang-orang seperti Ganjar mengingatkan kita bahwa harapan belum sepenuhnya pupus.

Berwajah tampan, percaya diri dan pintar bicara, pria lulusan Universitas Gadjah Mada ini adalah contoh dari sedikit sekali anggota DPR yang belum dikotori oleh godaan dari kehidupan publik.

Dia mendapat pujian atas investigasi DPR yang dilakukannya atas skandal Bank Century, juga atas sikap tenangnya saat dipanggil oleh KPK sebagai saksi dari sebuah skandal korupsi yang lain.

Ganjar sangat sadar akan berbagai masalah yang sedang dihadapi oleh rekan-rekannya – bahkan, salah satu alasan mengapa kinerjanya dalam investigasi Century dipuji banyak orang adalah sikap empatiknya saat mengajukan pertanyaan pada Wakil Presiden Boediono, sementara anggota tim yang lain menjalankan pendekatan lebih agresif.

Dalam hal ini, Ganjar mewakili sikap berpolitik Jawa yang halus – walaupun menurutnya dia tidak sengaja “’tercemplung’ ke dalam profesinya sekarang ini.

Sebagai aktivis mahasiswa di tahun 1992, dulu dia adalah anggota Partai Demokrasi Indonesia (PDI) di zaman Orde Baru, tapi kemudian keluar setelah Suryadi, ketua PDI saat itu, menyingkirkan Megawati Sukarnoputri.

Kemudian Ganjar menghabiskan beberapa tahun ke depan belajar dari ikon-ikon politik seperti Megawati dan Soetardjo Serjogoeritno, sambil membangun bisnis konsultan sumber daya manusia.

Berbagai diskusi yang didapatkannya tidak hanya mempertajam kemampuan intelektualnya, tapi juga meyakinkan dirinya bahwa keadilan sosial – terutama membela kaum marjinal – adalah kunci penting dalam politik, dan cara terbaik untuk melakukan itu adalah melalui institusi partai politik.

Di awal 2003, dia melakukan pelatihan advokasi untuk kader PDI-P, sebelum akhirnya menjadi kandidat dalam pemilu legislatif 2004. Ganjar kalah tipis, tapi kandidat di atasnya terpilih menjadi duta besar, dan jadinya Ganjar menggantikan posisinya, dan terpilih kembali pada 2009.

Segera Ganjar memperoleh reputasi sebagai legislator yang efektif (karena kegigihannya, undang-undang institusi parlemen ditambah dari 100 pasal menjadi 408 pasal untuk memastikan transparansi yang lebih baik), dan sebagai seorang politikus yang berprinsip (lihat saja investigasinya yang vokal atas dugaan dipalsukannya keputusan Mahkamah Konstitusional oleh politisi Partai Demokrat).

Setelah naik menjadi Wakil Ketua DPR Komisi II untuk urusan dalam negeri, dia juga diisukan menjadi kandidat untuk masuk dalam Kabinet Indonesia Bersatu Kedua, Oktober 2011.

Tapi, yang membuat saya terpukau oleh Ganjar adalah sikap moderatnya. Dia sangat lantang berbicara tentang isu GKI Yasmin, menuntut Diani, ibukota Bogor, diturunkan karena menentang perintah Mahkamah Agung yang mengizinkan gereja itu beroperasi.

Dia juga mengatakan pada saya: “Salah satu prinsip hidup saya adalah menghindari ekses. Karena ekses dalam hal apa saja bisa membuat kita jadi rentan untuk membuat kesalahan.”

Karena inilah Ganjar mewakili hal-hal terbaik dalam politik Indonesia: santai dan rendah hati tapi memegang teguh prinsipnya. Yang menjadi pusat dari integritasnya adalah rasa”malu”-nya: dia sadar bahwa dampak negatif dari skandal apapun bukan hanya akan menimpa keluarganya, tapi juga rakyat secara umum, yang rasa percayanya pada abdi negara telah dirusak.

Ini menunjukkan bahwa dia sangat merakyat, dan dia sering berbicara tentang perlunya empati emosional dengan para pengambil suara. Dia paham bahwa dia sudah mengemban kepercayaan rakyat, dan tahu bagaimana ‘malu’-nya dia bila sampai mengkhianati ini.

Ganjar adalah bagian dari generasi politisi Indonesia yang tumbuh di era Reformasi. Walaupun benar bahwa sebagian telah mengambil jalan yang salah, atau terbukti tidak punya cukup moral dalam diri mereka, masih banyak lagi – seperti Ganjar dan rekan-rekannya, misalnya Hidayat Nur Wahid, Budiman Sudjatmiko dan Nurul Arifin – yang tetap mempertahankan prinsip mereka.

Ada tendensi bahwa publik senang menyoroti kegagalan suatu kelompok di masa lalu – dan mereka berhak saja untuk melakukan itu. Tapi yang akan mengantarkan Indonesia pada masa depan, adalah keberanian dan pengorbanan yang dilakukan oleh para pemimpinnya yang jujur. [mor]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.