INILAH.COM, Beijing - Kelas menengah China terus tumbuh sejajar dengan pertumbuhan ekonominya yang selama bertahun-tahun mencapai double digit. Tapi kelas menengah China ini ya pasti berbeda dalam menyalurkan hasrat dalam hobi atau gaya hidup.
Hobi atau gaya hidup yang bisa medongkrak status sosial mereka. Mereka pasti berbeda lidah dalam mengecap buah industrialisasi dan modernisasi China. Kota kuno Yichang yang terbentang sepanjang Sungai Yangtze dan tempat Three Gorge Dam berada, bisa menjadi contoh terbaik untuk menggambarkan kelas menengah baru China.
Orang kaya baru (OKB) umumnya berasal dari kalangan saudagar dan pegawai kantoran yang punya kekayaan kultural. Dua kelompok ini ingin tampil lebih bermatabat dan masyakat diharapkan mengapresiasi apa yang mereka capai.
Mobil mewah pasti menjadi pilihan pertama, karena bisa mewakili uang yang mereka miliki dan cepat menaikkan status mereka. Saudagar Chen Chang menganggap mobil SUV sebagai lambang yang tepat bagi “ksatria” China macho dalam berakhir pekan. Ia mendirikan klub penggemar off-road pada Maret 2004. Kini sudah terkumpul 200 “ksatria” yang petantang-petenteng pamer jip mereka.
Tapi Chen mengamati, olahraga seperti off-road ini justru bisa menyatukan golongan saudagar dan kantoran sehingga mampu mengontrol diri. Klub ini dengan rutin menggelar tour off-road yang disebut sebagai “orienteering”, sebuah cabag olahraga yang menurut mereka, mengandalkan ketelitian membaca peta dan kompas.
Sedangkan bagi mereka yang ingin segera kelihatan sebagai anggota klub OKB (orang kaya baru), ya mesti kreatif menciptakan anak tangga untuk bisa mencapai ketinggian cita-cita mereka sejak kecil. Ada yang malah kelihatan katrok menggapai mimpi, tapi ada pula yang kelihatan normal.
Ini contohnya. Li Shuangxi pindah dari dusun kecil di provinsi Hubei pada 1986. Ia berhutang kepada abangnya 600 yuan (sekitar Rp 90.000) dan membuka kedai cukur murah. Pada 2007, ia mengeluarkan 600.000 yuan (Rp90 juta) untuk membuka “studio rambut” di tengah kota, tapi tetap hanya punya satu kursi untuk menata rambut. Tapi, dasar Li, ia bangga punya meja biliar di tengah ruangan 157 meter perseginya.
“Saya melihat meja biliar ketika baru sampai di kota ini, saya ngomong sama diri saya, saya bakal punya meja biliar sendiri nanti. Isteri saya membantu saya mengelola bisnis ini dan studio rambut ini bisa membantu saya meraih cita-cita sejak kecil,” ujar Li kemarin (26/1) kepada China Daily. Agak lebai juga si Li ini. Lebih banyak ruang yang dimakan meja biliar dari pada kursi potong rambut.
Menikmati hidup seperti menjadi agama baru anggota kelas menengah China saat ini. Sekarang orang China lebih memperhatikan kesehatan dan fashion. Istilahnya, “more fashion conscious”. Begitulah.
Tiga dekade lewat, Song Bin mendapat hadiah kamera dari pamannya, ketika ia berumur 8 tahun. Tentu kamera ini menjadi harta bagi seorang anakkanak yang tinggal di desa nun jauh dari keramaian kota. Namun Song tak sempat meluangkan waktu belajar fotografi, semasa sibuk bergelut dengan bisnisnya selama 10 tahun.
Ketika bisnisnya menuai kejayaan, Song berkesempatan meraih mimpi-mimpinya dulu yakni hasratnya di fotografi mulai kumat. Ia nekat membeli 30 kamera, sebagian besar kamera antik yang dicari kolektor semacam Leica atawa Hasselblad yang legendaris itu. Song termasuk agak maruk kamera.
Asian Development Bank pernah memperkiran jumlah kelas menengah China kini mencapai 817 juta penduduk, dengan standar daya beli US$2 hingga US$20 per hari. Tapi menurut China Daily, mereka justru enggan masuk dalam kelompok kelas menengah, karena dalam hidup mereka, seperti tersandera harus membayar cicilan mobil, rumah, kartu kredit, asuransi dan tetek bengek ciri-ciri modernitas.
Aneh juga, mau dikategorikan kelas menengah tapi tetap hidup tanpa nyicil apa. [mdr]