Jumat, 19 September 2014 | 08:46 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Ikhwanul Muslimin Mesir Tolak Syariat Islam
Headline
almasryalyoum.com
Oleh: Herdi Sahrasad
web - Senin, 5 Desember 2011 | 04:05 WIB
Berita Terkait

INILAH.COM, Jakarta - Muslim Brotherhood (Ikhwanul Muslimin) yang keluar sebagai pemenang dalam pemilu parlemen putaran pertama di Mesir, sudah menegaskan tidak akan mengorbankan kekebasan dengan menerapkan Syariah Islam. Sinyal perubahan dan pembaruan yang nyata dari Islamisme politik di Mesir?

Pemilu parlemen di Mesir kali ini diikuti empat aliansi politik yang mencakup spektrum politik cukup luas, dari berhaluan kanan, Islam, hingga kiri. Mereka terdiri atas, pertama, Aliansi Liberal terdiri atas Partai Bebas Mesir, Partai Sosial Demokrat Mesir, dan Partai Taqammu.

Kedua, aliansi Islam yang dipimpin Ketua Partai Nour, Emad Abdel Ghafour. Aliansi Islam terdiri atas Partai Nour, Partai Asala, Partai Salafi Kini, dan Partai Konstruksi Pembangunan (sayap politik organisasi Al Jamaah Al Islamiyah). Partai Nour yang berhaluan Salafi bertekad jika memenangi pemilu parlemen akan mendorong pelaksanaan syariah Islam.

Ketiga, Aliansi Revolusi Berlanjut, yang merupakan aliansi elektoral aktivis Revolusi 25 Januari dan berbagai kelompok sosialis. Mereka terdiri atas Partai Aliansi Popular Sosialis, Partai Sosialis Mesir, Partai Kebebasan Kesetaraan dan Pembangunan Mesir, Partai Liberal Now Mesir, dan Koalisi Pemuda Revolusi.

Keempat, aliansi Demokrat yang dipimpin Ikhwanul Muslimin (IM). Aliansi Demokrat menyatukan 12 partai di bawah kepemimpinan Partai Kebebasan Ikhwan dan Partai Keadilan. Aliansi Demokrat juga mencakup Partai Ghad Liberal dan Partai Nasserist Karama.

Wakil Ketua Partai Politik Ikhwanul Muslimin (Muslim Brotherhood), Essam el-Erian mengatakan partainya tidak berniat menerapkan Syariah Islam di Mesir yang merupakan rumah bagi sejumlah besar umat Kristen. "Kami adalah partai moderat dan adil. Kami ingin menerapkan hukum Islam secara adil dengan tetap mempertimbangkan HAM dan kebebasan personal."

Pernyataan el-Erian tersebut dipandang sebagai pertanda paling jelas bahwa IM menjauhkan diri dari partai ultrakonservatif Partai Nour yang menjadi pemenang kedua di belakang mereka. IM menjadi partai tengah, moderat karena sadar bahwa persatuan dan kesatuan dalam kebhinekaan masih menjadi masalah di Mesir. IM lebih terbuka dan moderat, suatu sinyal perubahan Islamisme yang memberi harapan bagi tegaknya multikulturalisme dan pluralisme di Mesir.

Partai Nour ingin memberlakukan Syariah Islam dengan tegas seperti di Arab Saudi. Sejauh ini, Partai Kebebasan dan Keadilan Ikhwanul Muslimin menang pada pemungutan suara Senin dan Selasa, sementara Kelompok Islamis al-Nour Salafi berada di tempat kedua.

Meski kelompok oposisi terbesar Mesir Ikhwanul Muslimin bukanlah penggerak utama demo anti-Mubarak, namun kelompok itu cukup populer. Gerakan Islam yang didirikan Syekh Hasan Al Banna pada 1928 itu, selama ini selalu menjadi momok menakutkan bagi tiap rezim penguasa, dari Raja Farouk, Gamal Abdul Nasser, Anwar Sadat, hingga Hosni Mubarak.

Maka tidaklah mengherankan hanya sehari sejak demo anti-Mubarak meletus pada 25 Januari lalu sebagai dampak dari tergulingnya Presiden Tunisia Zainal Abidin bin Ali, puluhan pemimpin puncak IM ditangkapi Mukhabarat (Dinas Intelijen Mesir) yang dikendalikan Jenderal Omar Suleiman yang kemudian menjadi wapresnya Mubarak.

Para pengamat mengatakan, pemilu pertama sejak tergulingnya presiden Hosni Mubarak itu umumnya berlangsung tertib. Namun sekurang-kurangnya 24 orang tewas dan lebih dari 3.000 cedera dalam bentrokan antara demonstran dan pasukan keamanan menjelang pelaksanaan pemilu.

Hari Jumat (2/12), para demonstran kembali ke Lapangan Tahrir, Kairo, untuk menuntut diakhirinya kekuasaan militer. Ada demonstran yang membawa peti mayat dalam pemakaman simbolis untuk para demonstran yang tewas dalam protes sebelumnya. Pemilu pekan ini adalah memilih anggota Majelis Rendah. Proses pemilu Mesir akan berlangsung hingga Maret.

Jika demonstran prodemokrasi tetap bertahan pada tuntutannya agar Tantawi mengundurkan diri dari pemerintahan sementara atau SCAF, tidak menutup kemungkinan pemilu parlemen yang digelar ini mendapat ganguan serius. Jika pemilu itu gagal, negara itu makin memasuki ketidakpastian politik dan pemerintahan yang jauh lebih berbahaya daripada ketika Mubarak lengser pada 11 Februari lalu.

Barangkali itulah yang dikehendaki kelompok revolusioner Mesir yang tergabung dalam Aliansi Revolusi Berlanjut yang saat ini masih menduduki Tahrir Square. Mereka berharap pemilu parlemen dibatalkan atau minimal ditunda karena jika pemilu parlemen digelar sekarang, mereka akan mengalami kekalahan telak dari kekuatan politik Islam yang tergabung dalam Aliansi Islam dan Aliansi Demokratik yang didominasi Ikhwanul Muslimin (IM).

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
14 Komentar
Ridwan Pagaralam
Senin, 10 Desember 2012 | 15:11 WIB
syari'at islam itu bila diibaratkan pedang; yang berbahaya bukanlah pedangnya melainkan pemegang pedang itu. bagaimana mungkin orang yang tak mendalam ilmu agama koq mau meneggakkan agama. afwan. :)
abu hafis
Rabu, 27 Juni 2012 | 19:08 WIB
mereka yang berkomentar sinis.. mudah2 di beri petunjuk oleh alloh SWT ... apalagi memfitnah dengan tanpa bukti yang benar... mudah2an IM dan jama'ah nya selalu di lindungi dan di beri petunjuk untuk memimpin dunia Islam keperadaban yang lebih baik....aminnnn
trunol
Jumat, 20 Januari 2012 | 16:04 WIB
justru negara yg menerapkan syariat Islam hidupnya tergantung negara non Muslim seperti AS dan Eropa, lucu pdh org2 indonesia berpikiran klo menerapkan jd lebih tegas thd AS
anwar
Kamis, 5 Januari 2012 | 13:03 WIB
tdk ada aturan yg dapat menjamin akan terjadi keadilan yg hakiki selain aturan Illahi,,,,
ana
Sabtu, 17 Desember 2011 | 13:15 WIB
itulah Kedalaman Pemahaman IM tentang Islam yang sangat sulit ditemukan di ormas islam atau jamaah islam lain. hanya satu kata "SALUT!!!"
@ryan bandung
Rabu, 14 Desember 2011 | 11:32 WIB
"Kami adalah partai moderat dan adil. Kami ingin menerapkan hukum Islam secara adil dengan tetap mempertimbangkan HAM dan kebebasan personal." ARTINYA IM GAK YAKIN DENGAN KESEMPURNAAN SYARIAT ISLAM ITU SENDIRI.
totok_tokogrosirjilbabgamismanis.blogspot.com
Rabu, 14 Desember 2011 | 09:50 WIB
biarlah mereka bicara sejarah yang membuktikan...serpihan heroik perjuangan IM tak bisa dipadukan kecuali dengan satu kata....ISLAM @www.tokogrosirjilbabgamismanis.blogspot.com
musmus
Rabu, 14 Desember 2011 | 08:18 WIB
Essam el-Erian "Kami adalah partai moderat dan adil. Kami ingin menerapkan hukum Islam secara adil dengan tetap mempertimbangkan HAM dan kebebasan personal." SALAH NGASIH JUDUL NIH.... MANA PERNYATAAN MENOLAK SYARIAT...?
Amru Musthadafin
Selasa, 13 Desember 2011 | 11:21 WIB
Aneh aja, "Menolak Syariat" tapi kok ditakuti, dibredel, dan dihabisi oleh Israel, Amrik, n Zionis, ato jangan jangan yang nulis itu termasuk yang takut, yang mau membredel, dan mau menghabisi
Omar Salim
Senin, 12 Desember 2011 | 21:58 WIB
sudah bisa ditebak jauh2 hari., Tdk beda dgn PKS di Indonesia. Bak pahlawan penyelamat Islam. Tapi punya rencana menghancurkan Islam itu sendiri.. Waiyyadzubillah
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA POPULER