Sabtu, 2 Agustus 2014 | 13:31 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Indonesia Vs Malaysia: Bukan Hanya Bola
Headline
Foto:Ist
Oleh: Syafiq Basri Assegaff
web - Sabtu, 26 November 2011 | 00:09 WIB

Kekalahan tim Garuda dari Malaysia pada SEA Games ke-26 mengingatkan kita pada berbagai persaingan antara Indonesia dan Negeri Jiran itu.

Belum lama berselang, masih hangat dalam ingatan kita, muncul isu soal bergesernya garis batas negara kita di Kalimantan. Kemudian juga masalah TKI, dan kasus Sipadan dan Ligitan tempo hari.

Bukan hanya itu. Lomba antar-tetangga itu berada dalam berbagai sektor. Dalam urusan seni dan budaya harus diakui Indonesia unggul, sehingga kita sewot saat Malaysia mengklaim hak cipta hasil karya orang Indonesia. Namun di bidang kesehatan, pariwisata dan pendidikan, jiran yang satu ini jauh meninggalkan kita. Mari kita jenguk.

Dalam bidang pendidikan, harus diakui sejak lama banyak orang Malaysia belajar di Indonesia. Hingga kini pun mahasiswa Malaysia mendominasi jumlah mahasiswa asing di Indonesia, yang jumlahnya mencapai 6000-an orang.

Lazimnya mengambil mata kuliah di bidang kedokteran, farmasi, agama Islam dan teknik, di antara perguruan tinggi yang banyak disasar mahasiswa asing itu adalah UI, IPB, ITB, Universitas Padjajaran, UIN Syarif Hidayatullah, dan ITS Sepuluh November.

Namun jumlah itu jauh di bawah angka mahasiswa Indonesia di Malaysia, yang hingga tahun 2010 lalu diperkirakan mencapai 9800-an, nomor dua terbanyak setelah mahasiswa asal Iran.

Data yang ada menunjukkan hingga 2007 saja, sekurang-kurangnya ada 45 ribu mahasiswa asing di Malaysia, hampir dua kali lipat dari jumlah pada tahun 2002 (sekitar 27 ribu). Bukan mustahil jumlahnya kini mendekati 80 ribuan.

Maka tidak heran bila saat ini berbagai universitas besar dan kecil dipadati muda-mudi dari berbagai negara di dunia – utamanya dari dunia ketiga. Sebutlah umpamanya Multimedia University (MMU), yang mulai beroperasi sekitar 12 tahun lalu.

Kini perguruan tinggi swasta pertama di Malaysia -- yang dibangun oleh mantan Perdana Menteri Mahathir Mohammad -- itu telah memiliki lebih dari 20 ribu mahasiswa , sekitar 4200-an di antaranya adalah mahasiswa asing dari 70-an negara seperti Iran, Indonesia, Arab Saudi, Kazakhstan, Sudan, China dan Thailand.

Di bidang kesehatan pun Malaysia juga piawai, mengikuti Thailand dan Singapura. Hingga tahun 2005 lalu jumlah pasien asing yang berobat ke Malaysia mencapai 400 ribuan orang.

Menurut data tahun 2007, sekitar 72% pasien asing di Malaysia berasal dari Indonesia. Diperkirakan tahun 2010lalu Malaysia menangguk tidak kurang dari RM 2 miliar (sekitar Rp.5,6 triliun) dari pasien asing yang berobat ke sana.

Bila angka itu benar, dan jumlah pasien asing asal Indonesia tetap di angka 70 prosen, maka artinya tahun lalu kita menyumbang sekitar Rp.3,9 triliun kepada sejumlah Rumah Sakit di Malaysia.

Brand dan promosi

Mengapa Malaysia begitu maju dalam bidang pendidikan dan wisata kesehatan?

Faktor bahasa Inggris, kata sebagian orang. Baiklah, memang bahasa Inggris menjadi bahasa kedua di sana, sehingga penting artinya dalam bidang pendidikan.

Tapi dari sisi kedokteran dan kesehatan, bukankah dokter kita tidak kalah pandai dari dokter Malaysia? Sementara mahasiswa Malaysia masih banyak yang belajar di sini.

Rupanya di antara penyebab utama adalah karena lembaga pemerintahan dan swasta Malaysia gencar berpromosi ke seluruh dunia. Selain itu, mereka secara serius memanfaatkan Internet efektif sehingga seolah ada satu Malaysian.Inc yang sangat kompak.

Tidak sia-sia usaha promosi ke dunia yang mereka lakukan selama ini. Bahkan sudah sejak 1990 Mahathir Muhammad meluncurkan Visi Malaysia 2020, yang bertujuan menjadikannya negara industri yang mandiri (self-sufficient industrialized nation). Di antara hasilnya, GDP perkapita Malaysia pada 2006 berhasil mencapai $12.155, jauh di atas Indonesia ($ 4.251).

Promosi melalui Internet juga sangat diandalkan. Berbagai universitas Malaysia, misalnya, mengembangkan situs universitymalaysia.net yang memberikan informasi mengenai apa dan bagaimana negeri dengan 13 negara bagian (federal) dan penduduk 28,5 juta itu, menampung sejumlah besar mahasiswa asing dari 100-an negara.

Sebaliknya, Indonesia masih tertinggal. Cobalah cari ’international students in Indonesia’ di Google, maka yang Anda peroleh justru lebih banyak promosi berbagai perguruan tinggi di luar negeri yang hendak menarik mahasiswa kita ke sana.

Dalam upaya promosi bagi pendatang, turis, investor dan expatriate, Malaysia juga melangkah beberapa tahap di depan kita. Cobalah berjalan-jalan di sekitar Bukit Bintang di Kuala Lumpur. Dari ujung ke ujung Anda akan mendapati ratusan turis asing, utamanya dari Timur Tengah.

Pemerintah kota juga menyulap suasana di tengah Kuala Lumpur sehingga menjadi seolah ‘Timur Tengah Kecil’.

Lalu perhatikan situs Alloexpat ini. Sekali masuk laman itu, seseorang yang ‘asing’ dengan negeri itu secara mudah akan bisa mengeksplorasi apa pun yang dia ingin ketahui.

Situs itu juga memberi tautan kepada ‘Layanan Imigrasi Malaysia’ – suatu hal yang paling mendasar bagi seseorang yang hendak merantau atau berlibur ke Negara lain.

Lewat situs seperti itu juga, seorang ekspatriat bisa mendapat informasi seperti restoran, hotel dan perumahan, guide belanja, sekolah, olahraga, jasa relokasi, jasa keuangan, informasi kesehatan, dan rekreasi.

Promosi atau iklan yang gencar dan dikelola secara strategis dan terintegrasi menjadikan brand atau reputasi Malaysia di dunia terus meningkat. Boleh jadi, bahasa menjadi salah satu alasan orang kuliah di luar negeri.

Tapi reputasi negara itu juga amat berperan.Brandsebuah negeri itulah misalnya yang menyebabkan orangtua suka mengirim anaknya tidak saja berkuliah ke negara berbahasa Inggris seperti AS atau Australia, melainkan juga ke Jerman, Prancis atau Jepang – yang tidak berbahasa Inggris.

Negara-negara itu punya brand yang tertanam di benak audience di seluruh dunia. Itu pula sebabnya Thailand ramai dikunjungi turis dan pasien dari manca negara yang hendak berobat.

Sejatinya memang kita bisa menggunakan branding sebagai alat untuk menemukan, mendesain, dan mengkreasikan berbagai produk dan jasa; juga, sampai batas tertentu, bagi ’sebuah negara’. Lewat branding itulah sebuah negara dapat mempertajam dan memengaruhi audiensnya di tingkat global.

Ia dapat memperkuat persepsi audiens karena branding di dalam hati (benak) adalah mengenai penciptaan koneksi-koneksi dan asosiasi dengan orang dan berbagai benda

Ia menyebabkan orang pergi ke dunia lain, untuk menemukan sesuatu yang baru, dan pada gilirannya juga menjadi ’ditemukan’. Ia adalah sebuah perjalanan terus menerus.

Salah satu kebenaran emosional yang tersembunyi di belakang kekayaan dan dampak branding adalah bahwa orang ingin menjadi bagian dari ’sesuatu yang lebih besar’ dari dirinya.

Kita, misalnya, ingin bergabung dengan mendiang Steve Jobs, dan kita melakukannya dengan membeli produk Apple.

Demikian pula, kita ingin bergabung dengan negara yang dalam benak kita dipotret sebagai ’maju’ seperti Jepang dan Inggris, sehingga membeli produk mereka, mengirim anak sekolah atau berobat di sana. Ringkasnya, kita ingin masuk dalam bagian brand-brand itu.

Lewat strategi marketing dan PR modern, Malaysia berhasil menciptakan keinginan (desire), menjanjikan mimpi-mimpi dan identitas yang diharapkan audience global. Mereka tahu, reputasi yang dibangun dan diakselerasikan melalui promosi akan menjadikan audiens merasa senang, ’muda kembali’, segar, maju dan progresif.

Penulis adalah Konsultan Komunikasi, dosen di Program Pascasarjana UniversitasParamadina, dan alumnus MA in Journalism, UTS (Australia). [mor]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
12 Komentar
Jeany Febriani Darmanto
Senin, 11 Juni 2012 | 14:38 WIB
Sadarkah kita bahwa "Promosi Pendidikan" dalam negara kita seringkali serba tanggung dan terkesan "nggak pede"? Sebenarnya masalah tidak hanya datang karena banyak pelajar berprestasi di Indonesia yang justru lebih memilih menimba ilmu di Malaysia dibandingkan di negeri sendiri. Masalah juga datang dari "Kualitas dan Jaminan Masa Depan" setiap sekolah atau universitas di Indonesia yang sering "meragukan". Promosi mereka lebih sering hanya pada sistem pendidikan yang diterapkan saja. Kita tidak perlu jauh-jauh sampai kepada tenaga guru atau dosen profesional yang disediakan atau kurikulum berbasis internasional yang sering ditawarkan, sebenarnya kita cukup hanya melihat dari teknologi dan fasilitas yang dimiliki oleh sekolah atau universitas kita. Bagaimana mau ‚??betah‚?? menimba ilmu di negara kita jika hanya sebatas sisi akademik yang ditingkatkan, sementara fasilitas semakin buruk. Gedung tua sering kali tetap dipertahankan "kebobrokan dan keusangannya", fasilitas seperti komputer "jadul", perpustakaan "ala kadarnya atau bahkan asal nyempil", AC atau kipas angin" yang sudah rusak dan tidak diperbaiki lagi", toilet yang "fasilitasnya tidak modern" dan "kotor" dan lain-lain yang terkesan serba "tanggung", "tidak terawat" dan "nyaris tidak dipedulikan" oleh pihak yang berwenang. Saya yakin, kita akan banyak sekali menemukan kondisi demikian di Indonesia. Coba kalau kita menengok ke negara tetangga, Malaysia dan Singapura. Bukan cuma masalah "akreditasi" atau "level pendidikan" yang ditawarkan, tetapi masalah lingkungan, tingkat keamanan negara, bahkan ketertiban masyarakatnya yang masih sangat jauh jika dibandingkan sama Indonesia. Di negara kita, jangankan ‚??aman‚??, ketertiban masyarakat saja sulit dibudayakan. Di Malaysia, mereka punya mini train, sementara di Singapore, mereka menyediakan ‚??MRT‚??. Semua lebih cepat dan orang bisa dengan nyamannya berjalan kaki kemana saja dengan rasa jauh lebih aman dari pada di negara sendiri. Jaman sekarang ini, orang yang ingin berpendidikan tinggi sudah tidak hanya mempedulikan soal "biaya" lagi.. karena lumrah rasanya jika kita perlu membayar jauh lebih mahal demi mendapatkan pendidikan. Ilmu memang sesuatu yang mahal. Promosi perlu dilakukan, namun perubahan dan pengembangan dalam hal-hal kecil tersebut seharusnya terlebih dulu dipikirkan. Disini, saya lebih berbicara mengenai pendidikan untuk rakyat menengah ke atas, yang memang punya uang untuk memilih ke negara lain demi sesuatu yang dianggap jauh "lebih baik, praktis, profesional, modern dan canggih". Jauh lebih mahal, ya sudah tentu. Tapi mereka juga menawarkan jangka waktu yang lebih singkat untuk lulus dibandingkan di negara kita yang rata-rata perlu 4 tahun untuk kuliah. Beasiswa yang mereka tawarkan juga "bukan main hebatnya". Jadi kepada negara kita, Indonesia... saya rasa... kita tidak hanya butuh pengembangan dalam "promosi" saja, melainkan perubahan dalam menciptakan lingkungan yang lebih berkualitas, maju dan terawat.
putra cianjur
Sabtu, 3 Desember 2011 | 23:20 WIB
hnya doa yg ku panjatkan pd thn utk merah pthku,smga dimasa yg akn dtg mnjdi lbh baik dr skrg............
sagaf
Senin, 28 November 2011 | 14:16 WIB
Btw, agar terhibur sedikit. Kita kali ini menang lho lawan Malaysia & Thailand pada perolehan medali di Sea Games. Sy yakin ini tercapai karena kemenpora memang serius meningkatkan kualitas para atlet, diantaranya dengan pemberian berbagai bonus ke mereka. Ditunggu aksi kementrian lainnya nih.. kemendiknas.. kemenkes.. dll..
Hasan M. Soedjono
Senin, 28 November 2011 | 13:21 WIB
Teman saya, mantan Dirut Pertamina, pernah bercerita bahwa sampai dengan awal tahun 1980an, Malaysia masih banyak berkirim tenaga ahli Petronas untuk belajar di Indonesia, baik di Yogya (Univeristas Veteran), Bandung (ITB), maupun di Jakarta (Trisakti). Ratusan pula yang magang di Pertamina. Sekarang keadaannya justru berbalik. Selain Petronas jauh lebih tersohor, mereka juga lebih besar, lebih sehat (profitable), dan lebih segala macam lagi. Dengan kata lain, kepiawaian Malaysia mencari ketenaran serta kemampuan mereka untuk dijadikan bagian perhitungan semua pihak di dunia, tidak bisa kita jelaskan dengan baik kalau kita hanya berangkat dari motivasi ingin mencap mereka sebagai penjiplak maupun pembajak idesemata. Kita harus bebaskan diri kita sendiri dari penyangkalan bahwa Malaysia memang bisa lebih baik. Kalau sudah berangkat dari realitas psikologis yang sebenarnya, barulah kita bisa mencari jalan untuk memperbaiki kembali posisi kita. -hms-
Syafiq Basri A
Minggu, 27 November 2011 | 23:59 WIB
Untuk Atikah: terima kasih untuk komentar Anda yang mencerahkan (dan kritis). Benar, bukan hanya bola. Sesungguhnya kita boleh yakin jika 10 % saja dari 240 jutaan SDM Indonesia dibantu untuk bergerak 'maju' demi bangsa, maka kita punya 24 juta orang yang handal di berbagai bidang (kesehatan, pendidikan, olahraga, dan sebagainya). Itu artinya hampir sama dengan seluruh penduduk Malaysia (yang saat ini jumlahnya sekitar 28 juta). Bukankah itu 'sesuatu' sekali?
Syafiq Basri A
Minggu, 27 November 2011 | 12:39 WIB
Nengherba, Sagaf, dan Mutiara, serta Lez@atri: Anda benar. Pemerintah harus punya willingness untuk segera bebenah diri, memperbaiki reputasi (branding) agar persaingan ketat dengan negara-negara lain (tetangga) bisa kita menangkan. Jika tidak, kita kuatir bangsa kita akan terus menjadi konsumen belaka, padahal selayaknya bisa menjadi produsen yang handal. Karena sejatinya SDM kita tidak kalah pandai. Dan banyak pula jumlahnya!
atikah
Minggu, 27 November 2011 | 11:46 WIB
Sebelumnya kita herus bangga dulu sebagai neara berpenduduk terbesar ke 4 di dunia. Artinya kita mempunyai opportunity dan strength untuk maju melebihi Malaysia bahkan negara-negara tetangga lainnya, tapi kenapa setelah merdeka 66 tahun kita masih ketinggalan? Suatu usia kalau ukuran pengalaman sudah cukup makan asam gram, kalau seorang profesor sudah banyak karyanya, kalau pejabat eselon I sudah banyak perubahan pembangunan yang dihasilkannya, kalau ukuran rata-rata usia manusia Indonesia sudah mendekati liang kubur.. masya Allah..nanti akan ditanya malaikat apa saja yang kamu sudah perbuat selama ini?.. Sungguh memperihatinkan.. nilai Indeks Pembangunan Manusia Indonesia saat ini meskipun naik (0,617) namun masih di bawah Filipina (0,644) apalagi kalau dibandingkan dengan Malaysia (0,761). Kalau dilihat kurvanya, ternyata sektor pendidikan bergerak landai..tentunya ini sangat berpengaruh terhadap semua upaya yang yang dilakukan di sektor lainnya. Kalau rata-rata hanya lulus SD/SMP (lama sekolah sekitar 7 thn) hanya akan menjadi tenaga kasar di lapangan pekerjaan, masih jauh untuk dpat mengahsilkan SDM tenaga kesehatan yang andal dan berkualitas...(jadi bukan hanya sekedar bola)Kalau menjadi tenaga kasar bagaimana dapat makan dengan gizi yang baik dan mendapat cadangan glikogen untuk berprestasi.., mungkin beli telur hanya sebulan sekali (jadi bukan hanya sekedar bola) Kalau kuang SDM tenaga kesehatan yang berkualitas, apalagi kalau gajinya kecil.. bagaimana mau senyum melayani pasien.. (jadi bukan hanya sekedar bola)
Sagaf
Minggu, 27 November 2011 | 07:45 WIB
Indonesia dengan resources yang jauh diatas Malaysia, kiranya cuma perlu Willingness dari pemerintah untuk 'maju'. Tanpa itu, kirannya kita akan selalu kalah dalam sepakbola, dan anak2 kita bakal pindah sekolah ke negara2 tetangga.. Thanks for bringing this up, Mr. Syafiq!
Mutiara Sigli
Sabtu, 26 November 2011 | 23:50 WIB
Miris membaca ini,seolah Goliath kalah oleh David. Mestinya pemerintah Indonesia cepat membenahi diri, think globally dan mengajak pihak swasta bsma2 dalam sebuah 'Indonesia Inc' yang kompak. Tapi repot kalau korupsinya masih merajalela.
nengherba
Sabtu, 26 November 2011 | 21:39 WIB
Waktu saya SMA, semua teman kuliah tante saya di UI orang Malaysia. Kemarin anak saya di FKG Usakti cerita kalo banyak anak Malaysia yang sekolah kedokteran di Indonesia. Artinya dokter-dokter di Indonesia lebih hebat dari Malaysia. Sudah bbrp tahun ini banyak pakar branding presentasi di kantor saya dan mengatakan negara kita tidak petnah dan tidak mampu mem-branding-kan seperti Malaysia. Padahal untuk masalah kedokteran, belanja, pendidikan, pariwisata yang dimiliki Malaysia tida seberapa dibandingkan dengan Indonesia. Persoalannya pemerintah kita tidak mampu mem-BRANDING-kan sebagai negara yang juga memiliki sektor jasa.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA POPULER