Kamis, 17 April 2014 | 01:57 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Media, Nama Baik dan Kesempatan
Headline
Syafiq Basri Assegaf - inilah.com
Oleh: Syafiq Basri Assegaf
web - Jumat, 9 September 2011 | 15:10 WIB

MENGAPA ada orang cepat tenar, sementara sebagiannya lagi sulit untuk dikenal?
Banyak jalannya. Tapi salah satu yang membuat orang -- juga produk dan jasa -- cepat dikenal, adalah berkat peran media massa. Baik itu media cetak, maupun elektronik dan media online seperti situs ini.
Media massa dapat melejitkan tingkat awareness khalayak terhadap seseorang atau pun sebuah perusahaan dan produk atau jasanya. Bahkan bukan hanya awareness sebenarnya. Media malah secara mudah meningkatkan pemahaman dan pengetahuan pembaca koran, pemirsa TV dan pengguna (user) situs online terhadap suatu produk atau orang.
Dalam waktu singkat citra orang atau brand bisa melejit secara positif atau ambruk (secara negatif).
Tak asingbranddi bawah ini yang Anda ketahui semata-mata karena Anda mengakses informasinya lewat media massa: Teten Masduki, Anies Baswedan, Gita Wirjawan, Munir, Komaruddin Hidayat, Ibu Prita, KPK dan banyak lagi brand lainnya; atau Gayus, Nazaruddin, Bank Century, DPR, dll.
Mereka itu, jika sering muncul di media secara baik, ya positif. Kalau munculnya karena kasus negatif, maka citranya runtuh cepat. Repotnya, menurut ahli komunikasi, orang lebih ‘bergairah’ pada berita buruk tujuh kali lipat dari yang positif.
Pemunculan nama di media juga terjadi karena tokoh itu sendiri yang menulis opini di media. Tapi orang suka bertanya, mengapa ada nama yang sering muncul di media, sementara lainnya tidak?
Ah, mudah saja kok menjelaskannya. Jika tulisan kolom Anda tidak dimuat di sebuah media, misalnya, mungkin sekali (antara lain) karena Anda belum sepopuler Saldi Isra atau Faisal Basri.
Meski seandainya tulisan Anda lebih bermutu dari artikel ’elite person’ lain, bila artikel itu tidak dipublikasikan sebuah media, maka itu bukan karena Anda tidak berbakat. Boleh jadi Anda punya talenta – dan tulisan Anda mengalir jernih, berbobot dan sangat mencerahkan – tapi Anda belum ’beruntung’.
Penulis kenamaan Malcolm Gladwell menyebutkan bahwa agar sukses, Anda membutuhkan talenta, kesempatan dan kerja keras.
Menurut Gladwell orang-orang tersukses kelas dunia seperti John Lennon, PaulMcCartney, Bill Gates, Steve Jobs (Apple), dan Warren Buffet pun berhasil berkat adanya kesempatan yang diberikan pada saat yang tepat pada orang-orang cerdas (Outliers; The Story of Success).
Menurutnya, kunci sukses adalah passion, talent, dan kerja keras. Tapi itu saja tidak cukup. Penting nih: “Perlu ada kesempatan (opportunity) yang diberikan kepada para outliers pada saat yang tepat,” kata Gladwell.
Semua orang-orang sukses mendapatkan kesempatan luar biasa yang tidak diperoleh orang lain. John Lennon dan PaulMcCartney memang punya bakat musik, Gates juga sangat pintar dalam matematika dan computer programming.
Mereka semua punya bakat yang tidak terbantahkan. Tapi kesempatan mewujudkan bakat dan kerjakeras merekalah yang menjadikan mereka berhasil.
Nah, dalam kaitan dengan tulis-menulis di media itu, beberapa nama tenar yang sering muncul di media sebenarnya terjadi karena adanya kelima hal itu. Sebutlah nama seperti Abdurrahman Wahid (dulu), Anies Baswedan, Eep Saifullah, Marie Pangestu, Effendi Ghazali, Yudi Latif, Faisal Basri dan lainnya; mereka adalah orang-orang berbakat, mumpuni di bidangnya, penuh semangat (passion) dan pekerja keras – sehingga nama mereka menjadi besar.
Tapi naiknya nama mereka juga berkat kesempatan yang muncul pada saat yang tepat; dan mereka tidak menyia-siakan kesempatan itu. Kesempatan itu seolah menjadikan mereka memperoleh ’panggung’ untuk sebuah pertunjukan.
Makin hari nama mereka makin dikenal. Sedemikian rupa seringnya mereka tampil di media ternama, maka media lain pun mengekor: meminta mereka menulis di medianya.
Begitu seterusnya, seperti bola salju. Dan karena sifat sementara pengelola media yang selalu mencari ’elite person’ – yang sebagian sebenarnya mereka ’ciptakan’ sendiri, maka orang-orang yang samalah yang kemudian sering muncul di berbagai media.
”Ah, Anda mengada-ada,” kata teman saya. ”Tidak,” jawab saya, ”Berani sumpah geluduk disamber geledek, itulah juga yang kami lakukan ketika dulu mengelola majalah Prospek – yang lahirnya dibidani pengusaha Soetrisno Bachir pada awal 90an – dalam hal mencari nara sumber untuk diwawancarai atau ketika mencari penulis opini untuk sebuah topik."
Meski sebagian besar kami sebelumnya pernah bekerja di Majalah Tempo, tetap saja untuk masalah tertentu, para wartawan pengelola perlu ’pinjam mulut’ (baca: tangan) orang lain untuk mengatakan sesuatu,untuk menulis sesuatu.
Dan tangan yang redaksi pilih biasanya adalah yang ’hendak diciptakan’ – orang-orang yang diberi kesempatan untuk muncul, menonjol – suka atau tidak suka pembaca itu soal lain, tapi itulah ketetapan redaksi, atau satu-dua orang yang berpengaruh di jajaran redaksi.
Saya yakin ada ratusan ekonom lebih hebat dari ’elite persons’ yang Anda kenal di media, tapi karena mereka kenal dekat dengan pimpinan media, maka mereka mendapat kesempatan -- dalam hal ini artinya space satu halaman di majalah atau 600-an kata di koran.
Maka, ketika tulisan Anda bisa tampil di majalah sekaliber Tempo, koran sebaik Kompas, atau situs sebagus Inilah.Com, artinya Anda boleh bangga sebagai orang berbakat dan hebat. Tapi, meminjam Teori Gladwell, sesungguhnya pimpinan redaksi di media itulah yang lebih hebat. Mereka itulah ‘sang penentu’ atau character makers– pencipta tokoh baru, elite persons baru.
Namun masalahnya tidak berhenti di situ. Untuk tahu apakah seseorang punya bakat bagus, talented atau tidak, tentu harus ada pembuktikan.
Dengan kata lain, pada akhirnya adalah usaha – kita baru tahu ada kesempatan yang terbuka, ada kesempatan emas, hanya bisa jelas setelah kita berikhtiar membuktikannya dengan cara memanfaatkan kesempatan itu.
Ketika siswa SMA yang bernama Bill Gates diberi kesempatan memanfaatkan fasilitas komputer di Washington University saat tidak dipakai, ia begadang selama berbulan-bulan, mengutak-atik komputer di universitas itu. Ini sesuai kata kitab-Nya,” Dan tidak ada bagi manusia kecuali apa yang ia usahakan.”
* Penulis adalah mantan wartawan, dan peneliti di Pusat Studi Islam dan Kenegaraan Universitas Paramadina. [mor]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
3 Komentar
yuannita
Jumat, 14 Oktober 2011 | 14:46 WIB
Media, sebagai 'penyambung lidah' membuka jalan, kesempatan bagi orang orang yang berbakat di bidangnya untuk lebih dikenal, diakui eksistensinya, yang berarti membuat mereka lebih sukses. Pada masa ini ketika media telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat, bagian dari demokrasi, banyak pihak berlomba lomba untuk mendapatkan kesempatan tersebut. Demam acara televisi yang menunjukan adu bakat, reality show bahkan sampai 'artis baru' yang ditemukan you tube kemudian di blow up media massa dan voila mereka pun seketika sejajar dengan artis-artis papan atas yang telah bertahun membangun karir. Ketika tidak ada lagi yang dapat ditonjolkan, mereka berlomba lomba menghembuskan gosip atau berita yang dengan mudah dapat diendus wartawan dan membuat mereka kembali kebanjiran job. Bukan hanya itu, dipanggung politik kiprah politikus yang ingin mendapatkan suara pun tak luput dari peran serta wartawan. Sayangnya, ketika satu persatu kasus politik seperti Nunun Nurbaeti dan Neneng sri wahyuni yang hilang tanpa jejak, kasusnya pun turut hilang, perhatian media seketika teralihkan pada issue lainnya. Sampai disini terbuktilah betapa besar keberadaan dan ketiadaan media terhadap suatu kasus, lepas dari benar atau salah.
Jeany Febriani Darmanto
Kamis, 13 Oktober 2011 | 14:31 WIB
‚??Media, nama baik dan kesempatan‚??, jika dilihat dari judul tulisan ini, terlintas dipikiran saya mengenai ‚??sesuatu‚?? yang ada dibalik ketiga kata itu, yaitu ‚??Orang‚??. Antara media, nama baik dan kesempatan, semuanya menuju kepada apa yang disebut dengan ‚??human relations‚??. Seperti apapun baik dan canggihnya perkembangan yang ada dalam suatu media, tidak ada yang dapat menjamin bahwa komunikasi yang disampaikan akan efektif. Hal ini dikarenakan komunikasi selalu tergantung pada orang atau siapa yang menjadi komunikator dan komunikan dan bagaimana hubungan yang terjadi di dalamnya. Dengan adanya dasar ini, saya setuju dengan argumentasi bahwa orang, produk ataupun jasa dapat menjadi ‚??cepat‚?? dikenal karena media massa. Kecepatan media massa itu yang menjadi alasan mengapa kita tidak lagi biasa mengandalkan mouth to mouth communication atau beragam alternatif sederhana dan tradisional lainnya yang kalah cepatnya dengan media di jaman sekarang untuk menyampaikan sesuatu yang sangat penting dan menarik. Media masa kini seperti media cetak, media elektronik dan online media adalah media yang cepat dalam membangun awareness dan pemahaman publik kepada apapun yang disorot oleh media tersebut. ‚??Dalam waktu singkat‚??, media mengubah, mempengaruhi, membangun atau bahkan menghancurkan citra orang atau brand. Kuncinya berada pada ‚??waktu‚?? dan ‚??proses‚?? yang ada di dalam media serta objek yang diberitakannya. Dari sini kita kembali lagi pada ‚??Orang‚?? yang terlibat dalam proses dan ‚??Orang‚?? yang membutuhkan waktu (lama atau secepat mungkin) untuk memberikan makna kepada audience dari media yang bersangkutan. Hal ini didukung oleh Jurgen Habermas dalam artikel jurnalnya yang berjudul ‚??Political Communication in Media Society‚?? (2006) dimana membahas mengenai kekuatan media berdasarkan pada teknologi komunikasi massa, yaitu ‚??mereka‚?? yang bekerja didalamnya yang secara politis menjadi sektor relevan dalam sistem media, yaitu wartawan, penulis atau redaksi, para editor, para direktur, produser, dan penerbit) yang tidak bisa jika tidak menggunakan kekuatan mereka. Mereka turut campur tangan dalam memilih dan memproses secara politis terhadap isi, pembentukan pendapat umum dan distribusi minat di dalamnya agar tetap relevan dengan tujuan mereka. Secara garis besar, Habermas juga menekankan hal yang sama seperti yang ditulis dalam artikel diatas, yaitu bahwa dinamika dalam komunikasi massa dikendalikan oleh kekuatan media untuk memilih dan membentuk presentasi pesan dan dengan menggunakan strategi pada kekuatan politik dan sosial untuk mempengaruhi agenda seperti halnya dalam mencetuskan dan menyusun isu publik. Profesional dalam media bertugas untuk memproduksi wacana elite, mereka ‚??diberi makan‚?? oleh para aktor yang berjuang untuk mengakses dan mempengaruhi media tersebut. Para aktor itu yaitu, partai politik dan politikus mulai dari sistem politik pusat, lobbyists dan special interest groups yang datang dari sistem fungsional dan advokat, kelompok kepentingan publik, golongan intelektual, dan usahawan yang datang dari latar belakang sebagai masyarakat sipil. Intinya, pimpinan media memberikan kesempatan kepada pihak-pihak tersebut dan hal ini memang sesuai dengan pendapat Gladwell bahwa mereka menjadi ‚??sang penentu‚?? atau character makers, pencipta tokoh baru atau elite persons baru. Sebagai mahasiswi dalam bidang ilmu komunikasi, saya mendapatkan pemahaman dari artikel ini bahwa bagaimanapun hebatnya seseorang dalam menulis atau berkomunikasi, media massa selalu melakukan gatekeeping terhadap informasi yang ia sampaikan. Jadi, kemampuan saja memang tidak cukup. Faktor ‚??keberuntungan‚?? yang datang dari ‚??kesempatan‚?? yang pada akhirnya menentukan pantas atau tidaknya sesuatu diberitakan melalui media, khususnya media ternama seperti koran Kompas, Metro TV, Majalah Tempo dan lain-lain. Napoleon I said, ‚??Ability is nothing without opportunity‚?? and Abraham Lincoln said, ‚??I will learn, the opportunity will come‚??. Orang yang populer seperti mereka juga menggunakan kesempatan (opportunity) sebagai tolak ukur dari kesuksesan. Jika saya boleh menambahkan, tentunya bukan berarti kesempatan hanya diberikan kepada golongan elite saja, siapapun masih bisa bekerja keras untuk mendapatkannya, misalnya dengan memahami agenda setting dari media massa. Dietram A. Scheufele (1999) dalam ‚??Framing as A theory of Media Effects,‚?? menyatakan ada dua tingkatan dalam teori Agenda Setting media massa, yaitu yang pertama adalah mengembangkan isu umum yang penting, dan yang kedua adalah menentukan bagian dari aspek dari isu tersebut yang dianggap penting. Hal ini memberikan suatu arah kepada masyarakat untuk mengelilingi isu yang mendasari agenda-agenda media. Agenda ini yang harus selalu kita ingat, karena sekalipun ada media yang netral (tidak berpihak), media tetap harus bekerja sesuai dengan agendanya. Saya hanya dapat menyimpulkan bahwa kemampuan seseorang yang disertai dengan pemahaman terhadap agenda dari media yang digunakannya adalah kekuatan untuk memperoleh nama baik dan publikasi dari media. Jadi, bukan hanya popularitas yang didapat oleh Saldi Isra atau Faisal Basri yang menjadikan mereka dikenal, melainkan seberapa pentingnya isu yang mereka bawa dan dianggap menarik oleh media untuk diberitakan kepada masyarakat. Pada akhirnya, saya menyarankan agar media dalam negara demokrasi seperti di Indonesia ini tetap waspada supaya jangan sampai masih mengutamakan fungsi media yang didasarkan pada teori Marxist bahwa media massa dimiliki atau dikuasai oleh kelas borjuis, media dijalankan berdasarkan kepentingan golongan mereka sendiri, media mempromosikan kepalsuan, serta akses media bertolak pada oposisi politis.
Enjelly
Kamis, 13 Oktober 2011 | 08:41 WIB
Setelah membaca artikel ‚??Media, Nama Baik dan Kesempatan‚??, saya rasa di sekitar kita saat ini juga terdapat beberapa nama yang tidak asing lagi terdengar di telinga kita, yaitu dengan munculnya artis-artis baru yang mendadak tenar dan menjadi trending topik bahkan hot news di media karena mereka mendapatkan kesempatan yang tidak terduga-duga, sebut saja Ayu Ting-ting, Briptu Norman, dan Sinta-Jojo. Jika membandingkan mutu mereka dengan artis-artis yang memang ‚??dipersiapkan‚?? secara matang untuk menghibur masyarakat, jelas mereka kalah kualitas entah suara ataupun dari faktor lainnya. Namun, sekali lagi, peran ‚??media‚?? dan ‚??kesempatan‚?? berperan dalam hal ini sangat berpengaruh besar. Bahkan, seakan tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk tampil lebih maksimal, sebut saja Briptu Norman misalnya, ia sampai rela meninggalkan pekerjaan lamanya dan siap memasuki dunia hiburan. Bagi saya, hal itu lumrah terjadi di kehidupan masyarakat, kita pun bebas mengomentari mengenai fenomena yang terjadi tersebut. Dari pujian, kritikan, atau pun keluhan jika membandingkan antara beruntungnya mereka yang dalam waktu sekejab bisa dikenal oleh banyak orang, namun bagi sebagian besar orang lainnya (yang memang bertalenta luar biasa) mungkin mengalami masa dukanya yang jauh lebih berat demi menapaki keberhasilan dan bisa dikenal oleh orang banyak, itu pun belum tentu tercapai tujuannya. Saran saya, siapa pun yang disajikan di media massa, alangkah baiknya jika isi atau pesan yang ingin disampaikan bisa berguna bagi masyarakat, misalnya dari sisi mengedukasi atau pun menghibur, karena sekali lagi, kesempatan adalah sesuatu hal yang tidak dimiliki oleh semua orang, jadi orang-orang kuat dibalik media yang memiliki posisi dan peran penting untuk menentukan siapa yang akan mengisi perhatian dari khalayak ramai, mereka harus pintar-pintar menampilkan orang yang bisa memberikan hal positif bagi publik, tidak hanya mengutamakan profit atau keuntungan perusahaan.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.